MENGHANGATKAN CINTA MESKI HANYA MERICA
Untuk Chef Rahmi yang cantik dan baik hati
Ingatanku tergores pada namamu.
Sajak cinta serupa tungku panas kepulkan ingatan itu.
Hari-hari adalah bara kayu berulang padam dan berpijar.
Kini merah, buncah, dan gembira bermuara di namamu : Lukisan huruf yang mengerat
jantungku dengan kenangan dan rasa lapar.
Kau adalah merica di atas jantung yang terpenggal, sesaat coklat tua
dengan asap putih melati. Kau meleleh indah semisal keju, coklat, dan gula aren.
Tapi nadiku hapal anggun pedasmu yang telaten.
Setengah Jantungku masih berdegup, renungkan asap yang sayup
Jika nasi suci berlapis daun pisang yang sakral,
akar palawija mengiring gurih kental,
jantungku tak akan larut dalam siasat yang kau lantunkan.
persetubuhan di atas tungku yang terlupakan.
Juli 2011
Padang tanpa Batu
: Mrs. S
1
Aku mencarimu dari jejak yang retak oleh angin
getir mengulum ujung bibir.
Sedang kau hanya titik, serupa fatamorgana di ujung pandangku,
pada padang yang memanjang tanpa batu.
Kau melangkah samar di ruas-ruas hari,
dan mata pijar yang memanjang: mencekam.
Bayanganku larut dalam malam,
kau belum lengkap kutemukan.
2
Menguncupkan perasaan padamu adalah hilang satu bagian tubuhku.
Sedang beribu rintik dewasakan hijau tubuhmu.
Aku menamai setiap tanah yang kuning, kau ranggas, keras dan kering.
Tapi aku tungku yang menakuti langkah cemburu.
Pun angin berdebu yang mengusik pucuk daun persembahanmu untukku.
Kau tak akan menemukanku di padang tanpa batu
Hanya rintik air penegak debu,
gumpalan harap perubah nasib lekas yang ikrar.
1
Malam takluk kembali.
Hanya tanganmu yang terkumpul di kantung pagi.
Ketika itu halusnya menyapa kering cabangku yang gemetar.
Pun beberapa potong senyum datar,
tapi tak akan sampai lapar aku hisap harunya.
Ia tetap utuh menjadi pengayuh desir darahku.
Serupa debu yang bergericik diterpa angin (bungkuslah ranting ingatan)
Aku tetap mengenalmu sebagai padang lenggang,
penggoda cabang-cabang, menjadi riang dalam badai.
Meski pertemuan hanya anai-anai,
dan aku patah kau hembuskan.
2
Padang ini memang tak pernah berbatu,
tapi kau beku. Tak perlu air turun di gersang pandang matamu,
juga debu dan pasir halus tangan-tanganku.
Kau masih menyamar dalam jejak langkahku yang pudar.
Sementara kakiku bercabang (mengingatmu seluruh tanpa bayang).
Menebar jejak-jejak yang parau.
Juli 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar