PADANG TANPA HUJAN
: Zie
"Kau lahir dari ayat dan selesai di tubuhku yang mengeras”
Hadirmu seperti kelahiran rembulan atau purnama di pangkal sempurnanya.
Aku hanya mata pada senja atau embun di langit tanpa warna.
Karena mencintaimu adalah berdiri malam hari, dengan hati telanjang kaki.
Lalu melepas sore dan mengikrar dingin pagi.
(Aku menguap)
Di raut bumi, aku menatapmu.
Bersama dzikir padi di rahim-rahimnya yang kuning,
sayur dan buah yang sabar dengan waktu,
atau aku dan kamu yang mesra, bertukar peluh di ladang batu.
(Aku menetes)
Terkadang parau suaramu, menyambuk batin terdalamku.
Serupa Qisas Adam yang pertama, atau jerit Bal’am di sudut kota yang terbakar.
Dan kau tengadah, di detik ujung perintah kurban.
(Aku mengukir rintik hujan)
Aku rasa, fajar dan sunyi bertukar mengharukan,
Ikatanmu longgar di terkam keyakinan,
dan menyembul asap dari sungai yang dijanjikan.
Kita dulang berlian meski seraut cahaya bulan
Karena Sang penggoda mengais kukunya yang tertahan,
(Aku tertahan)
“Kita harus lahir sebelum mengeras di padang tanpa hujan”
(Aku telah menjadi kolam)
Kediri, Agustus 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar