Sketsa 3 Perspektif
Kugambar kau dalam tiga perspektif yang saru.
Mata sayu juga hidungmu tajam meruncing di penaku
1
Mengukir garis rindu menjadi simbol dan lekuk garis yang hablur,
batinku berbaur menjadi bayang kubur tersungkur.
Akalku lepas memelukmu, tak ada rasa ragu.
Karena bayang-bayang itu akan mendewasakanmu.
2
Sebab yang bergerak tak pernah bersih,
kuciptakan kau dalam kertas putih.
Kuberi semacam ruh, agar senyummu terlihat nyata,
bukan rekayasa kehidupan manusia
3
Penaku beringsut melukis usiamu,
masa muda yang hilang satu cahaya.
Kuletakan cahaya tepat di matamu,
agar kau pandai merasakan kehidupan.
Bandung, 10 Juni 2011
Kata yang Tanggal
Dalam termenung aku menyebutmu.
sebab kurung kaku menjadi semacam belenggu.
Tenang kasih, aku masih mengulang parasmu
merasakan getaran kelana membran usia,
melukis paras yang semakin renta.
Masih kugenggam seikat kata,
hendak kuikat di atas tiang langit.
Menjadi badai paling sengit,
penghapus ribuan jelmaan matahari.
Kering samudera di mataku, dan badai pun berlalu
: penantian yang dibekukan rasa sabar.
Belenggu tak bisa kupecahkan,
Hanya rimbun warna masih tersimpan
dalam pitam larutan malam.
Kasih, aku menyerah pada waktu.
Bandung, 10 Juni 2011
Ulang Tahun
Tuhan melirikmu
Izroil mengasah pisau
Ayahmu tersenyum, ibumu terharu
Keluargamu sorak-sorai dalam gempita
teman-temanmu bahagia
dan kau yang harus segera merasakannya
teman-temanmu menganga
Keluargamu tak percaya
Ayahmu tersenyum, ibumu mengulum tangis
Izroil kembali
Tuhan menatapmu
Bandung, 10 Juni 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar